image 11

Empat Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) di Papua

Prinsip dalam pengembangan wilayah adalah Competitiveness;

  • Cluster base; Build on existing and potential strength;
  • Membangun overall strategy;
  • Prioritas, Data Driven-FactBase; Konsisten;
  • Visi, Strategy, Plan,Implementation;
  • Entrepreneurship; dan
  • Public Private Partnership.

Competitiveness not only job creation, yaitu mendorong pertumbuhan wilayah yang kompetitif baik secara nasional maupun global, dengan memacu peningkatan produksi kawasan dan peningkatan nilai tambah hasil produksinya.

Cluster base adalah memfokuskan pembangunan pada kluster-kluster potensial dan strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sehingga dapat menarik perkembangan kawasan di sekitarnya.

Build on existing and potential strength not only reducing weakness yaitu pembangunan berbasis kekayaan alam yang dimiliki denga nmemperkaya rantai produksi untuk menaikan nilai tambah, termasuk kearifan lokal.

Membangun Overall strategy (bukan hanya daftar aksi), yaitu membangun secara menyeluruh diseluruh aspek, meliputi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Prioritas yaitu memberikan prioritas dan tahapan penanganan berdasarkan kapasitas yang tersedia untuk efektifitas dan efisiensi pembangunan.

Data driven-fact base yaitu perencanaan, pemrograman, dan perancangan berdasarkan data dan fakta yang benar, terkini, dan akurat.

 

Konsisten, yaitu pengembangan dilakukansecara konsisten dan terus menerus sesuai perencanaan. Sementara Visi,Strategy, Plan, dan Implementation adalah berkesinambungan, terstruktur, dan sistematik, serta masif.

Sedangkan entrepreneurship adalah menciptakan peluang kewira usahaan sektor formal dan informal dengan mendorong tumbuhnya inovasi dan kreatifitas.

Terakhir adalah Public private partnership, yaitu kerjasama dengan swasta untuk mewujudkan rencana pembangunan.

Pembangunan berbasis WPS merupakan suatu pendekatan pembangunan yang memadukan antara pengembangan wilayah dengan “marketdriven” dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Pembangunan berbasis WPS fokus pada pengembangan infrastruktur menuju wilayah strategis, mendukung percepatan pertumbuhan kawasan-kawasan pertumbuhan di WPS, serta mengurangi disparitas antar kawasan di dalam WPS.

Untuk itu diperlukan suatu keterpaduan perencanaan antara infrastruktur dengan pengembangan kawasan strategis dalam WPS dan juga sinkronisasi program antar infrastruktur (Fungsi, Lokasi, Waktu, Besaran, dan Dana).

Dukungan infrastruktur PUPR dalam pengembangan WPS adalah berupa konektivitas, yaitu menghubungkan antar cluster untuk meningkatkan pertumbuhan dan mengurangi disparitas, serta memperlancar arus keluar barang dan jasa.

Berikutnya adalah perkotaan dan industri untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kawasan, Hinterland untuk meningkatkan keterkaitan antara fungsi pengolahan, produksi, dan jasa, serta komunitas dalam meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan penyediaan perumahan.

Di Kepulauan Papua terdapat empat yaitu

  • WPS 31,
  • WPS 32,
  • WPS 33 dan
  • WPS34.

WPS 31 adalah wilayah pertumbuhan baru Sorong – Manokwari, yang meliputi jalan nasional Papua Barat (Sorong –Manokwari) dengan kondisi yang sangat bagus;

Kota Sorong (PKN) dengan luas sekitar 656,4 km2 dan jumlah penduduk mencapai 211.840 jiwa (2013), PDRB 9,35 juta per kapita (2013);

KawasanIndustri Sorong seluas: 300 Ha dengan jenis industri berupa Kayu dan ikan laut; Pelabuhan Sorong (kelas PelabuhanUtama) dengan luas sekitar 128.236 m2 dan kapasitas kargo sebesar 500.000 TEUS (2014).

Berikutnya adalah Bandara Sorong (Bandara Kelas 2) seluas 57.790m2 dengan kapasitas 3.393 orang; Bendungan Klasmesen (Kota Sorong); FEF (Kabupaten Tembraw) dengan luas distrik mencapai 591,05 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 432 jiwa(2013).

Kemudian ada Bendungan Prafi (Manokwari); Pelabuhan Manokwari (KelasPelabuhan Pengumpul); kota Manokwari (PKW) dengan luas 4.650,32 km² dan jumlah penduduk sebanyak 150.179 jiwa (2013).

Selanjutnya ada Bandara Rendani Manokwari dengan luas sekitar 90.000 m2,dan distrik Ransiki (Kabupaten Manokwari Selatan) dengan luas distrik sekitar 4.721 km² dan jumlah penduduk sebanyak 8.817 jiwa (2013).

Selanjutnya adalah WPS 32 (Biak –Manokwari – Bintuni), yang merupakan pusat pertumbuhan yang sedang berkembang.

WPS ini meliputi KotaManokwari seluas 237,24 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 85.700 Jiwa. Kota Manokwari memiliki angka IPM sebesar 68,07 dan PDRB sebesar Rp 1.314 juta.

Berikutnya ada Kota Ransiki dengan jumlah penduduk sebanyak 7.084 jiwa dan PDRB sebesar Rp 175 juta. Kota berikutnya adalah Bintuni dengan luas kabupaten mencapai 421,75 km2 dan jumlah penduduk sebanyak 18.552 jiwa.

Angka IPM Bintuni adalah 67,58 dengan PDRB mencapai Rp 6.796 juta. Di wilayah ini juga terdapat simpul Kegiatan Migas Utama LNG, Pelabuhan Bintuni (pelabuhan pengumpul), Kawasan Industri Teluk Bintuni dengan jenis industri berupa migas.

Kemudian ada Bandara Rendani (bandara pengumpul skala domestik), Pelabuhan Manokwari (pelabuhan pengumpul), dan KPSN Teluk Bintuni yang memiliki daya tarik berupa wisata pantai/bahari, taman nasional, dan situs sejarah/tempat ibadah. Selanjutnya ada KPSN Biak dengan daya tarik berupa bentang alam, wisata bahari, flora fauna, situs bersejarah, adat tradisi dan tamannasional laut.

Di wilayah ini juga terdapat kota Biak yang memiliki luas sekitar 14.250,94 Km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 238.133 Jiwa. Biak memiliki angka IPM 71,03 dan PDRB sebesarRp 1.046 juta.

Berikutnya ada bandara internasional Frans Kaisepo, pelabuhan Biak (pelabuhan pengumpul) dengan luas mencapai 127.530 m2, Pelabuhan Korido (pelabuhan pengumpul), dan Pelabuhan Saribi (pelabuhan lokal).

Berikutnya, WPS 33 adalah wilayah pertumbuhan baru Nabire – Enarotali– Wamena. Di wilayah ini terdapat fasilitas pelabuhan Nabire (pelabuhan pengumpul), Kota Nabire (PKW) yang berpenduduk sebanyak 82.437 jiwa (2013) dan menghuni area seluas 127 km2.

Kota Nabire memiliki angka IPM 68,02 danPDRB sebesar Rp 1.089 juta. Selanjutnyaada Kota Kigamani (PKL) dengan jumlah penduduk sebanyak 11.326 jiwa (2013) dan luas wilayah mencapai 115,92 Km2.

Kota Tigi (PKL) dengan jumlah penduduk sebanyak 17.997 jiwa (2013) dan luas wilayah 14,49 Km2.

Kota berikutnya adalah kota Enarotali(PKL) yang terletak di Kecamatan Paniai Timur dengan jumlah penduduk 5.278 jiwa(2013) dan luas wilayah mencapai 588,8Km2.

Kemudian ada Kota Sugapa (PKL) yang terletak di Kabupaten Intan Jaya dengan jumlah penduduk sebanyak 43.405 jiwa dan luas wilayah 2.325 Km2.

Pelabuhan Pomako Timika (pelabuhan internasional), Bandara Mozez KilanginTimika (bandara pengumpul skala tersier) dengan kategori bandara domestik.

Berikutnya ada Kota Timika (PKN) dengan jumlah penduduk sebanyak 127.278 jiwa (2013) dan luas wilayah 2.216 Km2. Kota Timika memiliki angkaIPM 70,02 dan PDRB sebesar Rp 8.637 juta.

Selanjutnya Kota Ilaga (PKL) dengan jumlah penduduk sebanyak 14.233 jiwa (2010) dan luas wilayah 886 Km2.

Kota Tiom (PKL) di Kabupaten Lanny Jaya dengan jumlah penduduk sebanyak 161.077 jiwa dan luas mencapai 3.440Km2.

Bandara Wamena (bandara perintis) dengan kategori bandara domestik.

Kota Wamena (PKW) dengan jumlah penduduk 48.640 jiwa (2012) dan luas wilayah 249,31 Km2, angka IPM 57,22 dan PDRB Rp 660 juta.

Kota Kobakma (PKL) dengan luas wilayah 328 Km2. Kota Karubaga(PKL) dengan jumlah penduduk 15.582 jiwa dan luas wilayah 312 Km2.

Terakhir adalah Kota Mulia (PKL) dengan jumlah penduduk 87.248 jiwa (2013) dan luas wilayah 575.16 Km2.

WPS berikutnya adalah WPS 34, yaitu wilayah pertumbuhan baru Jayapura– Merauke, yang meliputi KSPN Sentani dengan objek wisata berupa Danau Setani berikut perkampungan tradisional Ase,wisata pantai/ bahari, dan bentang alam.

Di wilayah ini terdapat PLBN Skow dan PLBN Sota. PKW dan PKSN Merauke dengan luas kabupaten mencapai 44.071 Km² dan jumlah penduduk sebanyak 115.359 jiwa (2011). Kabupaten Merauke memiliki angka IPM 66,52 dan PDRB sebesar Rp 1,902 juta.

Kemudian ada PKW dan PKSN Arso dengan jumlah penduduk 21.572 jiwa (2014). Kabupaten ini memiliki IPM 69,94 dan PDRB Rp 451juta.

Pelabuhan Merauke (pelabuhan internasional Kelas III) seluas 6,5 Ha lebih dengan kapasitas dermaga: 2×3 T/M³/M².

Pelabuhan Jayapura (pelabuhan internasional Kelas II) dengan luas 5 Ha dan kapasitas dermaga 100 ribu TEUs/tahun.

PKL Waris di Kabupaten Keerom dengan luas 911,94 Km² dan jumlah penduduk 3.263 jiwa (2013).

KTM Senggi di Kabupaten Keerom, KTM Muting danKTM Salor di Kabupaten Merauke.

PKL Oksibil dengan luas 248 Km² dan jumlah penduduk 7.454 jiwa (2013), distrik ini memiliki angka IPM 49,83 dan PDRB sebesar Rp 328 juta.

Selanjutnya ada Kawasan Rencana Pengembangan Kotabaru, PKSN Tanah Merah dengan luas 27.108 Km² dan jumlah penduduk 30.147 jiwa (2011), kabupaten ini memiliki angka IPM 51,42 dan PDRB sebesar Rp584 juta.

Selanjutnya ada KSPN Wazur-Merauke dengan objek wisata berupa Musamus, Tugu Perbatasan, dan Suaka Margasatwa Wazur.