Teluk Bintuni Papua Barat

Teluk Bintuni Papua Barat Di inisiasi Sebagai Kawasan Konservasi

Perairan Teluk Bintuni Papua Barat memiliki formasi hutan mangrove seluas 260.000 Ha atau sekitar 10 persen dari luas kawasan mangrove di Indonesia. Hal ini menjadikan kawasan Teluk Bintuni sebagai wilayah perairan dengan potensi perikanan yang tinggi.

Sepanjang pesisir Teluk Bintuni Papua Barat merupakan daerah potensial untuk aktivitas penangkapan bagi nelayan. Salah satunya adalah udang, yang sangat dominan di perairan Teluk Bintuni Papua Barat.

Ekosistem mangrove dengan perairan berlumpur dan sungai besar yang bermuara di teluk merupakan habitat yang baik untuk udang berkembang-biak.

Berdasarkan hasil survei pada periode Oktober 2016 -April 2017 produksi udang rata-rata yang berhasil ditangkap oleh nelayan di perairan Teluk Bintuni adalah sebanyak6,17 Ton per bulan.

 

Di sisi lain, kawasan Teluk Bintuni juga memiliki potensi cadangan gas alam yang cukup besar, termasuk di area perairan Taroi dan Weriagar yang merupakan area penangkapan bagi masyarakat.

Teknologi seismik yang digunakan dalam eksplorasi dan eksploitasi gas alam dikhawatirkan akan mempengaruhi lingkungan sekitar, khsususnya sumberdaya perikanan.

Kerusakan fisik bagi ikan dan spesies lainnya yang ada dikawasan sangat bergantung pada karakteristik suara impuls dari teknologi seismik yang di gunakan.

Karena itulah banyak pihak, terutama ormas, yang mendorong Pemprov Papua Barat untuk menginisiasi kawasan konservasi baru di Teluk Bintuni sebagai kawasan perairan yang dilindungi dan dikelola untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan.

Tentunya upaya konservasi sumber daya alam diharapkan dapat berjalan beriringan dengan perkembangan yang ada. Karena suatu kegiatan eksplorasi tanpa di imbangi dengan upaya konservasi akan mengakibatkan terjadinya ketidak seimbangan lingkungan.