west papua bintuni bay fisherman

Nelayan di Teluk Bintuni Hasilkan Tangkapan 6,17 Ton Udang/Bulan

Perairan Teluk Bintuni adalah kawasan yang memiliki formasi mangrove terluas di Provinsi Papua Barat yaitu seluas 260.000 Ha atau sekitar 10 persen dari total luas kawasan mangrove di Indonesia.

Inilah yang menjadikan perairan Teluk Bintuni memiliki potensi sumberdaya perikanan yang tinggi. Padatnya hutan mangrove di Teluk Bintuni juga menjadikan wilayah ini sebagai basis penangkapan udang dengan tingkat potensi yang tinggi disamping sebagai area fishing base bagi nelayan.

Sepanjang pesisir Teluk Bintuni merupakan daerah potensial untuk aktivitas penangkapan nelayan. Salah satunya adalah komoditas udang, karena udang sangat dominan di perairan Teluk Bintuni.

Ekosistem mangrove dengan perairan berlumpur dan sungai besar yang bermuara di teluk ini menjadikan Teluk Bintuni sebagai habitat yang baik untuk perkembangbiakan udang.

Para nelayan yang melakukan aktivitas penangkapan udang di kawasan ini rata-rata dapat memperoleh hasil tangkapan 6,17 Ton udang pada setiap bulannya.

Di sisi lain, kawasan Teluk Bintuni juga memiliki potensi cadangan gas alam yang cukup tinggi, khususnya di area perairan yang meliputi perairan Taroi dan Weriagar.

Potensi ini tentunya juga merupakan berkah alam yang perlu di eksplorasi dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat.

Namun sebagaimana diketahui, cara eksplorisasi dan eksploitasi sumberdaya gas alam ini masih menggunakan teknologi seismik atau gelombang bunyi yang tentunya akan mempengaruhi lingungan sekitar, khsususnya sumberdaya perikanan di Teluk Bintuni.

Gelombang bunyi memang tidak membahayakan lingkungan, tetapi jika dilakukan terus menerus, tentunya akan berdampak buruk terhadap perairan sekitar, yaitu terjadinya kerusakan fisik ikan dan spesies lainnya. Hal ini tentunya harus menjadi pertimbangan tersendiri.

Karena itulah Pemprov Papua Barat didorong untuk menginisiasi kawasan konservasi baru di Teluk Bintuni, yaitu sebuah kawasan perairan yang dilindungi dan dikelola secara baik untuk mewujudkan pengelolaan sumberdaya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan.

Tentu saja isu konservasi ini diharapkan dapat berjalan beriringan dengan perkembangan, atau lebih tepatnya sebagai penyeimbang lingkungan. Karena jika pengelolaannya hanya difokuskan pada kegiatan eksplorasi sumber daya alam saja tanpa memerhatikan konservasi, maka akan terjadi ketimpangan lingkungan.