Maskot PON ke – 20 dan Tagline Torang Bisa Simbol Identitas Papua

Maskot PON 20 dan Tagline Simbol Identitas Papua

Biasanya, penyelenggara event olahraga berskala besar selalu menonjolkan ciri khas maskot dan tagline dan PON XX Papua ke-20 Papua pun tak mau ketinggalan. Jika maskot Olimpiade dan tagline melambangkan identitas negara tuan rumah dalam skala internasional, Asian Games dan SEA Games dalam skala regional, maka maskot dan tagline PON Papua ke-20 juga memiliki arti khusus yang melambangkan identitas. dari Provinsi Papua.

Sebagai tagline sekaligus theme song, Panitia Besar PON XX Papua ke-20 telah memperkenalkan “Torang Bisa!”. Ungkapan “Orang Bisa!” adalah kata khas Papua yang diucapkan untuk memberikan semangat juang para atlet. Torang sendiri merupakan singkatan dari “we the people”. Pada kata “bisa”, lekukan warna merah melambangkan adanya energi, kekuatan, keinginan, keberanian, simbol api, dan pencapaian tujuan. Sedangkan warna hitam disematkan pada kata “torang” untuk melambangkan harga diri.

Sementara itu, Papua menyiapkan maskot “Kangpho” dan “Drawa” yang digunakan dalam perhelatan PON ke-20. Kangpho adalah singkatan dari kanguru pohon mantel emas (Dendrolagus pulcherrimus), hewan endemik Papua. Kanguru pohon merupakan salah satu hewan khas di Papua. Meski sama-sama berkantung atau mamalia yang memiliki kantong di perutnya, kanguru pohon berbeda dengan kanguru di Australia. Kanguru pohon hidup di pohon dan memakan biji dan daun muda dari pohon besar. Tubuhnya juga lebih kecil dari kanguru Australia.

Dalam maskot PON ke-20, Kangpho digambarkan membawa obor PON dengan ikat kepala dan jumbai di kepala dan pinggang. Band dengan jumbai di kepala adalah simbol kebesaran bagi pria. Jumbai di pinggang biasanya dipakai oleh wanita, yang melambangkan sambutan hangat dan ramah di Papua.

Ada ukiran Papua yang terkenal di seluruh dunia pada sabuk dan lengan maskot Kangpho. Ukiran ini berkaitan dengan spiritualitas kehidupan dan penghormatan terhadap leluhur yang selalu hidup dalam pikiran dan hati masyarakat Papua.

Maskot Kangpho juga memakai mahkota puncak bersalju sebagai ciri khas pegunungan Jayawijaya di Papua yang bersalju terus menerus. Puncak Jayawijaya, dengan puncak tertinggi di Pegunungan Sudirman (Sudirman Range), memiliki ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut. Gunung Jayawijaya merupakan salah satu dari tujuh puncak tertinggi di dunia.

Sementara itu, Penarikan maskot PON Papua ke-20 adalah maskot berupa burung Cenderawasih atau nama latinnya paradisaea raggiana. Cenderawasih adalah burung kicau berukuran sedang dengan panjang sekitar 34 cm (genus paradisaea). Di dunia, ada 30 jenis Cenderawasi tangan 28 di antaranya ada di Papua. Salah satunya adalah jenis apoda atau dikenal juga dengan nama Cenderawasih berekor emas. Jenis Cenderawasih inilah yang sering kita jumpai karena dijadikan sebagai mahkota. Khususnya pada PON ke-20, sekelompok pemuda Papua mengimbau kepada panitia dan masyarakat untuk tidak menjadikan mahkota Cenderawasih sebagai oleh-oleh. Pasalnya, hal itu dapat mengakibatkan perburuan burung cenderawasih.

Medali merah putih yang menghiasi kalung Drawa melambangkan kebersamaan dalam memperebutkan medali dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sedangkan tiga lingkaran di dalamnya menunjukkan klasifikasi medali emas, perak, dan perunggu.

Selanjutnya, warna kuning pada kepala dan ekornya merupakan warna asli Cenderawasih yang melambangkan semangat kehangatan dan kegembiraan. Warna ini juga menunjukkan Papua sebagai tanah yang kaya. Sedangkan obor yang dipegang oleh masing-masing maskot menunjukkan semangat yang kuat dan berkobar seperti api untuk memperebutkan prestasi dengan menjunjung tinggi sportivitas.

Mirip dengan Kangpho, Drawa juga bermahkota dan memakai rumbai khas Papua. Meski kedua maskot tersebut menggunakan jenis yang berbeda, namun sebenarnya memiliki makna yang sama.

Read More: Mengenal Upacara Adat Ritual Pemakaman Suku Asmat