Merauke Sentra Produksi Pangan Nasional

Kawasan Food Estate Merauke Menjadi Sentra Produksi Pangan Nasional

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) telah menyusun percepatan pengembangan Kawasan Merauke Trans Papua (MIFEE) sebagai kawasan yang mengutamakan ketahanan pangan, yaitu Pengembangan Kawasan Food Estate Merauke yang diharapkan dapat memberikan arahan bagi pembangunan dan perwujudan struktur ruang di kawasan yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta potensi ekonomi kawasan tersebut.

Selain itu hal ini dimaksudkan sebagai salah satu upaya mendukung percepatan pengembangan kawasan secara terpadu antara infrastruktur PUPR, sektor lain, dan program pemerintah daerah dalam rangka meningkatkan daya saing kawasan.

Sektor pertanian adalah yang paling dominan dalam laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Merauke, namun penggunaan lahan di Kabupaten Merauke masih di dominasi oleh

  • semak belukar rawa seluas 1.296.643 Ha,
  • hutan lahan kering sekunder seluas 702.759 Ha, dan
  • hutan lahan kering primer seluas 597.768 Ha.
  • Sementara lahan terbangun berupa permukiman hanya seluas 3.929 Ha.


Ini merupakan potensi yang besar untuk pengembangan pertanian maupun pengembangan infrastruktur dalam mendukung sektor pertanian dan industri pengolahannya di Kabupaten Merauke.

Kabupaten Merauke memiliki daya dukung lingkungan yang cukup tinggi untuk kawasan budidaya yaitu sebesar 45% dengan luas 2.093.316,44 Ha, kawasan lindung sebesar 55% dengan luas 2.558.027,40 Ha. Dengan daya dukung lingkungan kawasan budidaya yang tinggi maka kabupaten Merauke berpotensi sebagai kawasan sentra produksi pangan nasional.

Disamping itu, Kabupaten Merauke juga memiliki potensi sumber air baku berupa air permukaan yang terdiri dari

  • Daerah Aliran Sungai Kumbe,
  • Maro,
  • Bian,
  • Digul, dan

Buraka yang tergolong sungai tadah hujan dataran rendah (lowland rainfe drivers) dan bermuara ke laut Arafura. Selain itu terdapat pula cekungan-cekungan rawa yang cukup luas seperti rawa Biruyang terletak di sebelah timur kota Merauke dan selalu berair sepanjang tahun.

 

Daerah irigasi Kabupaten Merauke merupakan bagian dari daerah irigasi Provinsi Papua yang pengelolaannya menjadi wewenang dan tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Selain adanya potensi pengembangan daerah irigasi, Kabupaten Merauke juga memiliki potensi rawa yangdapat di kembangkan untuk dapat dimanfaatkan khususnya bagi pengembangan pertanian tanaman pangan.

Potensi pengembangan rawa pasang surut di Distrik Okaba seluas736.621 Ha dan baru dimanfaatkan sebesar 296 Ha. Beberapa distrik lain seperti Kurik, Tanah Miring, dan Semangga juga memiliki potensi pengembangan rawa pasang surut yang merupakan bagian dari kawasan food estate.

Sementara potensi pengembangan rawa lebak yang berada di Kimaan, Salor, Jagebob, Muing, dan Semayam baru hanya rawa lebak di Kimaan yang di kembangkan untuk tanaman pangan seluas 443 Ha.

Dukungan lainnya adalah berupa jaringan jalan di Kabupaten Merauke yang terdiri atas jaringan jalan nasional, jalan provinsi, dan jalan kabupaten. Di antaranya adalah Trans Papua yang menghubungkan Merauke Kota hingga ke perbatasan Kabupaten Merauke dengan Kabupaten Boven Digoel.

Selanjutnya ada jaringan jalan provinsi yang menghubungkan antar distrik di Kabupaten Merauke. Kemudian ada jaringan jalan lokal yang menghubungkan antar kelurahan/kampung di dalam distrik.

Di Kabupaten Merauke juga terdapat banyak dermaga sungai yang dapat di manfaatkan dan di kembangkan di antaranya dermaga Kumbe I di distrik Malind, Kumbe II di distrik Semangga,Bian I di distrik Malind, Bian II di distrik Okaba dan Sungai Burakadi distrik Tubang.

Pengembangan Kawasan Food Estate di kembangan dalam tiga tahap. Tahap I meliputi 10 distrik, tahap II meliputi 2 distrik dan tahap III meliputi 3 distrik.

Tahap I didasarkan atas keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus di Salor dan pelabuhan Kumbe. Tahap II di tentukan karena pertimbangan pembangunan Pelabuhan Wanam sebagai titik kegiatan distribusihasil produksi pangan.

Tahap III ditentukan dengan pertimbanganadanya dua pelabuhan di area lahan, yaitu Pelabuhan Kimaam di sebelah barat dan Pelabuhan Bian di sebelah timur yang di laluioleh alur pelayaran kabupaten dan mendukung berlangsungnya kegiatan distribusi hasil produksi pangan di Kabupaten Merauke.

Pada tahun 2025 jumlah penduduk Kabupaten di proyeksikan mencapai 278.217 jiwa dan tidak mengakibatkan terjadinya perubahan yang signifikan pada masing-masing distrik sehingga tidak berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur wilayah.

Pengembangan Kawasan Food Estate berusaha memenuhi kebutuhan infrastruktur pertanian dan juga kebutuhan infrastruktur permukiman penduduks ebagai satu sistem yang dapat mendukung Pengembangan Kawasan Food Estate.

Kawasan Food Estate menjadikan padi sebagai komoditas unggulan. Tanaman pertanian pendukung terdiri dari tanaman holtikultura dan perkebunan berupa jagung, kedele, ubi kayu,ubi jalar dan kacang tanah, tebu, sawit, karet dan sagu, mangga, rambutan dan durian.

Kawasan Food Estate adalah Kawasan Sentra Produksi Pangan Nasional yang berkelanjutan dengan dukungan infrastruktur yang terpadu.

Mengembangkan kawasan perkotaan dengan konsep agropolitan, dan mengembangkan kawasan perdesaan sebagai pusat produksi pangan. Selain itu, FoodEstate juga mengembangkan kawasan permukiman perdesaan yang layak dan sehat melalui dukungan infrastruktur yang terpadu, meningkatkan konektivitas dan jaringan transportasi antar kawasan perdesaan, mengembangkan kawasan perdesaan sebagai sentra produksi komoditas unggulan guna mendukung kawasan perkotaan, dan mengembangkan agro industry yang ramah lingkungan.

Fotografi Bawah Laut Terbaik di Papua Barat