Pekabaran Injil di papua barat

Sejarah Pekabaran Injil di Papua

Dalam sejarah pekabaran Injil di tanah Papua pada permulaan abad ke-20, yaitu pada waktu awal di mulainya gerakan pengkristenan, di berbagai tempat, unsur-unsur budaya mengalami tantangan berat karena dianggap sebagai unsur-unsur kafir yang patut ditiadakan.

Sikap pertentangan sesungguhnya bukan berasal dari masyarakat setempat pemilik kebudayaan, tetapi bersumber dari para pekabar Injil.

Hal ini terjadi akibat dari pandangan yang keliru terhadap kebudayaan masyarakat sehingga menyebabkan terjadinya pergeseran nilai yang menimbulkan krisis identitas budaya.

Ketika nilai-nilai budaya setempat mengalami penggerusan oleh nilai-nilai baru dari luar, maka terjadilah benturan-benturan nilai antara yang lama dan baru.

Biasanya nilai-nilai baru dari luar dianggap lebih kuat dan unggul terhadap nilai-nilai setempat. Akibat dari benturan-benturan nilai yang terjadi, terkadang orang kehilangan pegangan hidup.

Misalnya dengan dimusnahkannya unsur-unsur budaya setempat sehubungan dengan penerimaan Injil oleh suatu kelompok sosial.

Di sadari atau tidak, lama-kelaman hal tersebut dapat menggoncangkan seluruh sistem masyarakat, yang dipegang teguh serta telah berurat dan berakar.

 

Terkait hal tersebut, Ottow dan Geissler melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang mereka temukan, khususnya di Mansinam, dan Papua pada umumnya dengan pendekatan adaptasi, yaitu observasi dan partisipasi sehingga dengan demikian Ottow dan Geissler dapat memahami kebudayaan, adat, dan perilaku hidup penduduk setempat.

Hasil pengamatan mereka kemudian menjadi dasar bagaimana melakukan pendekatan yang tepat kepada penduduk setempat untuk melakukan pekabaran Injil di Papua, khusunya di Mansinam.

Setelah satu tahun berada diMansinam dan melakukan pengamatan,Ottow dan Geissler barulah memulai kebaktian pertamanya pada hari Minggu dalam bahasa Melayu dan dilakukan dua kali pagi dan sore.

Satu tahun berikutnya (1857) Ottow dan Geissler berhasil menyusun sebuah buku nyanyian dalam bahasa Numfor.

Selanjutnya menterjemahkan Alkitab secara berturut-turut, di mulai dari kitab Injil Matius dan kemudian Injil Markus. Berikutnya mereka menyusun buku Katekismus dan kamus berbahasaNumfor.

Pada tahun yang sama, Ottow dan Geissler juga memulai penyelenggaraan program pendidikan, yaitu sekolah Zending pertama di Mansinam (1857). Kemudian berturut-turut di susuldengan sekolah Zending kedua di Kwawi (1857), sekolah Zending ketiga di Meoswar (1867) dan sekolah Zending keempat di Andai(1869).

Di beberapa daerah tertentu mereka juga membuka sekolah-sekolah Zending bersamaan dengan pembukaan pos-posPekabaran Injil yang baru, antara lain di Maomi-Ransiki padatahun 1874, dan di pulau Roon pada tahun 1883.

Sementara itu juga dibuka satu sekolah khusus untuk anak-anak pedalaman dari suku Hatam dan Meyach di Ambang Manokwari pada tahun1897.