Potensi Ubi Jalar Sebagai Penggerak Perekonomian Lokal

West Papua Tabloid – Selain sagu, ubi jalar merupakan salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia Timur khususnya di Papua dan Papua Barat. Sebagai bahan makanan pokok, ubi jalar merupakan komoditas produksi terbesar di Papua. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, hasil ubi jalar pada tahun 2014 adalah 411.893 ton, 446.925 ton pada 2015, 408.143 ton pada 2016,307.333 ton pada 2017, dan sebagai sebanyak 250.245 ton pada tahun 2018. Ubi jalar diproduksi di beberapa kabupaten di Papua, produksi terbesar ada di Jaya Wijaya, dan Merauke menempati posisi kedua. Papua merupakan provinsi terbesar kedua setelah Jawa Barat dalam produksi ubi jalar. Produksi ubi jalar di Indonesia pada tahun 2018 saja mencapai 1.914.244 ton dan Papua memegang sekitar 13,07% produksi.

Potensi Ubi Jalar di Papua dan Papua Barat

Salah satu tempat produksi ubi jalar di Jaya Wijaya adalah di Wamena. Lokasi tepatnya berada di lembah Baliem yang berada pada ketinggian 1.5002.000 di atas permukaan laut (LIPTAN, 29/10/2009). Ubi jalar di sini dikenal sebagai hypere. Mereka membudidayakan ubi jalar secara tradisional dari generasi ke generasi. Dalam pembentukan lahannya, petani memanfaatkan lahan berbukit dan berbukit untuk membentuk medan yang tegak lurus dengan arah kontur lahan. Mereka beranggapan bahwa tanaman yang ditanam di lahan yang tegak lurus akan lebih manis. Menurut mereka, tanah yang sejajar dengan kontur tanah akan menyimpan air di dalam tanah dan diserap langsung oleh ubi jalar dan mengurangi rasa manis yang tidak mereka sukai. Ini sudah menjadi budaya turun temurun yang sangat sulit untuk diluruskan.

Provinsi Papua merupakan daerah yang mampu menghasilkan ratusan ton ubi jalar setiap tahunnya dan memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, Provinsi Papua secara konsisten menjadi provinsi terbesar kedua dengan panen ubi jalar tertinggi secara nasional. Panen ubi jalar yang melimpah cukup mengecewakan jika hanya bergilir di pasar lokal. Mayoritas petani ubi jalar menjual hasil panennya kepada masyarakat sekitar dan dijadikan sebagai makanan pokok. Ubi jalar yang dipanen dari Papua tidak efektif digunakan untuk dijual di pasar luar negeri melalui ekspor. Melalui ekspor ubi jalar, tingkat ekonomi masyarakat Orang Papua bisa ditingkatkan.

Kuantitas tahunan ekspor ubi jalar Indonesia pada dasarnya sangat jauh lebih kecil dari total tahunan jauh lebih kecil dari total hasil tahunan di Provinsi Papua. Indonesia mampu mengekspor 1518 ribu ton ubi jalar setiap tahunnya, sedangkan pada 2018 saja Papua mampu memanen 250 ribu ton ubi jalar. Sayangnya, mayoritas ubi jalar yang diekspor Indonesia hanya tiga jenis, yaitu ubi cilembu, beniazuma, dan ubi ungu. Ubi jalar Papua belum mampu menjadi jenis unggulan untuk ekspor.

Papua memiliki potensi besar untuk ekspor ubi jalar

West Papua Tabloid – Meskipun Papua memiliki potensi ekspor ubi jalar yang besar, namun ada satu hal yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data Kementerian Pertanian, ada tren penurunan panen ubi jalar selama 20142018. Penurunan hampir 50% saat Data 2014 dan 2018 dibandingkan. Salah satu hal yang dapat menyebabkan penurunan hasil panen ubi jalar Papua adalah pola tanam yang masih tradisional. Mayoritas masyarakat Papua menggunakan metode budidaya ubi jalar yang telah diajarkan secara turun temurun. Pola tanam ini memang tidak salah, namun jika orientasi panen ubi jalar digunakan untuk ekspor, maka penanaman secara tradisional dirasa kurang cocok.

ubi jalar yang akan diekspor perlu diverifikasi secara berkala dengan standar internasional mulai dari benih hingga pasca panen. Pola tanam tradisional belum mampu mencapai hal tersebut. Namun, mengganti pola tanam tradisional dengan standar internasional tidak bisa dilakukan secara langsung. Hal ini dapat menimbulkan potensi konflik dan keengganan dari petani ubi jalar. Satu hal yang bisa dilakukan adalah memisahkan dua prioritas penanaman. ubi jalar yang akan dijual di pasar dalam negeri dapat menggunakan pola tanam tradisional. Sedangkan ubi jalar yang akan diekspor perlu dipisahkan dan ditanam secara konvensional dengan standar internasional. Melalui dua prioritas ini, masyarakat Papua dapat berdiri di atas dua kaki, pertama, mereka dapat memenuhi kebutuhan pasar lokal sebagai bahan makanan pokok, dan kedua, mereka dapat memperoleh manfaat yang besar dari ekspor ubi jalar.

Read More: Transportasi di Papua Turunkan Harga Sembako