indonesia fishieries paradise

Kontribusi Sektor Perikanan di Raja Ampat Terhadap PDRB Papua Barat

Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat memiliki luas wilayah sekitar 71.600 Km2 yang sebagian besar (91,50%) adalah berupa lautan yang kaya sumberdaya perikanan, serta sangat cocok untuk kegiatan budidaya laut.

Dengan kondisi wilayah yang demikian, maka sektor perikanan di Kabupaten Raja Ampat tentunya memiliki potensi sebagai kontributor utama dalam Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Raja Ampat. Di sisi lain, PDRB merupakan salah satu indikator untuk mengetahui struktur perekonomian suatu daerah.

Kontribusi sektor perikanan terhadap PDRB Kabupaten Raja Ampat adalah sebesar 26,30% per tahun. Tapi jika tanpa sektor Migas, kontribusi sektor perikanan adalah sebesar 49,71% per tahun terhadap PDRB Kabupaten Raja Ampat.

Sedangkan kontribusi sektor perikanan Kabupaten Raja Ampat terhadap PDRB perikanan Provinsi Papua Barat adalah sebesar 17,93% per tahun. Kontribusi subsektor perikanan hasil laut terhadap PDRB sektor perikanan Kabupaten Raja Ampat adalah sebesar 55% per tahun.

Kontribusi PDRB Kabupaten Raja Ampat terhadap PDRB Provinsi Papua Barat adalah sebesar 4,99% per tahun. Namun jika tanpa sektor Migas, maka kontribusi PDRB Kabupaten Raja Ampat adalah sebesar 4,40% per tahun terhadap PDRB Provinsi Papua Barat.

Lebih Dari 37 Persen Jenis Ikan Di Dunia Terdapat Di Perairan Indonesia

Perairan di Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang melimpah. Potensi ikan lestari di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 6,4 juta Ton per tahun dan karena itu sangat berpotensi untuk mengembangkan industri perikanan.

Sejauh ini terdapat sekitar 78 jenis organisme laut yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang sudah dimanfaatkan oleh nelayan Indonesia. Jenis organisme laut tersebut terdiri dari 51 jenis ikan, 9 jenis krustase, 9 jenis moluska, 5 hewan air, dan 4 jenis rumput laut.

Selain itu, perairan Indonesia juga merupakan sumber plasma nutfah terbesar di dunia, karena lebih dari 37 persen jenis ikan yang telah teridentifikasi di seluruh dunia, terdapat di perairan Indonesia.

Namun demikian, Indonesia menerapkan prinsip Blue Economy dalam mengembangkan industri perikanan, dimana para nelayan dan para pelaku industri perikanan hanya boleh mengambil maksimal 80 persen dari jumlah potensi ikan lestari di Indonesia yang diperkirakan mencapai sekitar 6,4 juta Ton per tahun. Hal ini dimaksudkan agar sumber daya perikanan tersebut dapat dimanfaatkan dan dikelola secara berkelanjutan.