Harmonisasi Tujuan Pembangunan Papua dan Papua Barat

West Papua Tabloid – Pembicaraan tentang perkembangan Papua dan Papua Barat, permasalahannya tidak pernah surut dalam wacana akademik atau politik. Tinjauan dari berbagai sudut pandang untuk menemukan solusi yang paling tepat dalam pembangunan Papua juga sedang dilakukan.

Papua memiliki keragaman budaya yang meliputi suku bangsa dengan wilayah, adat istiadat, kepercayaan, nilai, dan bahasa. Namun, pandangan etis yang sudah berlangsung lama melihat orang Papua dari sudut pandang orang luar. Dengan demikian, representasi Papua yang terlihat adalah homogenitas.

Basis Sosial Budaya Tantangan dan Potensi Pembangunan di Papua

Mengutip https://fisip.ui.ac.id, selain homogenisasi, pelabelan gerakan sosial budaya telah menjadi gerakan lokal dalam karya sastra yang diterbitkan. Istilah-istilah seperti Gerakan Navistik, Gerakan Revitalisasi, Gerakan Mesias, atau Kultus Kargo digunakan untuk menyebut gerakan masyarakat di Papua dan Papua Barat. Pembingkaian serupa juga terjadi dari sudut pandang otoritas atau pemerintah. Gerakan-gerakan ini dipandang sebagai gerakan separatis, gerakan perlawanan yang cenderung memisahkan diri.

Masih di masa lalu, sudut pandang eksternal juga menganggap masalah di Papua dan Papua Barat hanya sebagai masalah domestik bagi Indonesia. Kecenderungan negara lain adalah mengamati dari jauh tanpa keterlibatan apapun. Akan tetapi, perubahan besar-besaran dalam konteks informasi dan teknologi yang terjadi di dunia telah membuat aspek sosial budaya menjadi kurang berbatas dan lintas batas. Akibatnya, masalah Papua bukan lagi hanya urusan dalam negeri Indonesia. Banyak negara merasa bahwa masalah Papua adalah bagian dari masalah internasional dan global. Hal ini mendorong banyak negara merasa perlu untuk terlibat dengan kepentingan tertentu.

Mengutip Anthony Giddens (Runaway World, 1996), demokrasi, hak asasi manusia dan keadilan global sedang bangkit di awal abad 21, membuat Papua menjadi lanskap terbuka. Apa yang terjadi di Papua bisa diketahui langsung oleh dunia. Perubahan besar-besaran juga telah mengubah pandangan etis menjadi emic view, yaitu memandang Papua dari sudut pandang orang Papua sendiri. Representasi homogenitas Papua sebelumnya telah bergeser menjadi heterogenitas.

Pandangan positivisme yang lahir seiring dengan perubahan yang terjadi juga menggeser posisi manusia dari objek ke subjek (subjektifikasi). Hal ini mendorong peningkatan kebebasan individu, atomisasi individu, pembentukan elit baru, peningkatan budaya politik, dan aktor (pemerintah, politik). partai, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, lembaga donor asing, pemerintah asing, dan lembaga masyarakat lokal) menjadi sentral.

Adapun hal-hal yang harus diperbaiki dari persoalan pembangunan Papua melalui perspektif sosial budaya yang terjadi antara lain; pluralisme budaya yang dipandang sebagai anugerah sekaligus kerentanan, relativisme budaya atas nama demokrasi dan hak asasi manusia yang justru mempertajam batas-batas sosial budaya, interpretasi kebebasan yang berlebihan, dan lemahnya kontrol atas kebebasan individu dan kelompok.

Tantangan dan Potensi Pembangunan Papua

West Papua Tabloid – Seperti dikutip dari bappenas.go.id, tantangan utama pembangunan Papua selama ini adalah luasnya wilayah dan jumlah penduduk yang terbatas namun hidup terpencar-pencar. Tempat tinggal yang sangat berjauhan dengan konektivitas transportasi yang minim membuat pelayanan dan aksesibilitas menjadi sulit. Masih banyak daerah yang belum terjangkau akses yang memadai.

Papua memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan, salah satunya adalah penegasan komoditas pertanian unggulan di wilayahnya. Misalnya Merauke dengan komoditas berasnya dipersiapkan menjadi lumbung padi nasional, kemudian di kawasan Seireri seperti Biak dan sekitarnya yang kaya akan potensi kelautan dan perikanan yang luar biasa.

Daerah pegunungan menghasilkan biji kopi dan buah merah berkualitas tinggi untuk industri obat dan kosmetik. Belum lagi potensi wisata yang sangat beragam di Papua, baik wisata bahari maupun wisata alam yang kaya akan flora dan fauna. Oleh karena itu, masih banyak potensi yang dapat digali di Papua yang dapat memberikan kontribusi bagi pendapatan nasional, selain pertambangan yang berbasis di Freeport.

Read More: Empat Bidang Prioritas Pembangunan Papua