KEBIJAKSANAAN TRADISIONAL PAPUA: Tradisi Makan Papeda Bersama

Tradisi Makan Papeda PAPUA

West Papua Tabloid– Salah satu makanan khas Provinsi Papua adalah Papeda. Menu ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia yang pernah berkunjung ke tanah Papua. Padahal, di luar Papua, banyak restoran dan tempat makan yang menyajikan Papeda. Bentuknya yang unik seperti jeli terbuat dari sagu sebagai bahan dasarnya. Makanan dengan tekstur kenyal dan lengket ini bisa dinikmati bersama ikan tongkol yang dibumbui kunyit.

Makan Papeda juga memiliki tradisi yang unik, yaitu makan dari piring yang sama dengan keluarga lain. Arti dari tradisi ini adalah menumpuk cerita untuk masa depan anak cucu mereka. Selain itu, ternyata Papeda tidak hanya memiliki rasa yang hambar, ada juga Papeda yang rasanya seperti kuah. Bahkan bentuknya juga seperti lontong.

Sebenarnya, seperti dilansir papuadaily.id, masyarakat desa Abar di Papua memiliki tradisi yang menarik bagi wisatawan. Mereka selalu mengajak pengunjung untuk makan ikan Papeda bersama sambal kuning. Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, mengatakan ikan papeda kuah kuning merupakan kuliner khas masyarakat Desa Abar yang berdiam di sekitar Danau Sentani.

Penduduk desa Abar juga masih setia membuat gerabah. Dengan demikian, ikan Papeda kuah kuning ditaruh dalam wadah gerabah. Papeda enak karena diolah dengan cara tradisional di dalam kuping lalu ditampung dalam wadah. Salah satu tradisi masyarakat desa Abar adalah makan Papeda bersama sambil duduk melingkar. Di tengah adalah Papeda dalam wadah gerabah.

Papeda disiapkan dengan saus ikan kuning yang disajikan di hotel atau piring kayu berukir. Tradisi makan papeda sambil duduk bersama merupakan tradisi yang sudah turun temurun oleh nenek moyang. Ada nilai-nilai positif dalam tradisi ini. Makan bersama membuat ikatan keluarga lebih kuat. Apalagi saat makan papeda bersama, biasanya orang tua memberikan nasehat kepada anaknya. Dan saat makan bersama dan ada tetangga yang lewat, orang tersebut kemudian dipanggil untuk makan papeda bersama mereka.

Hari Suroto menyampaikan pengalaman menarik setelah beberapa kali membawa peneliti dari dalam dan luar negeri ke desa Abar. Kepala Suku Abar, Naftali Felle, selalu mengajak wisatawan untuk makan Papeda ikan kuning bersamanya. Saat hendak pulang, mereka tidak diperbolehkan kecuali memakan Papeda terlebih dahulu. Naftali Felle pernah menyatakan bahwa makan ikan Papeda dengan kuah kuning merupakan tradisi yang berlaku bagi siapa saja yang berkunjung ke desa Abar. Makan Papeda dalam gerabah wajib dan semua harus dikonsumsi. Jika Anda tidak menyelesaikannya, Anda tidak bisa pulang.

Setiap tanggal 30 September, Festival Makan Papeda dalam Tembikar berlangsung di Desa Abar. Dalam festival itu, wisatawan bisa makan Papeda dan bisa membawa pulang gerabah. Namun, festival ini telah dibatalkan sejak pandemi Covid 19 merebak. Kegiatan berubah menjadi makan Papeda dan berdoa bersama hanya dengan warga desa Abar.

Read More: PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PAPUA